Rabu, 15 November 2017

PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Assalamualaikum Wr.Wb

Apa kabar para pencari ilmu...
dalam postingan kedua saya ini, saya akan membahas tentang Pengambilan Keputusan.
Ya Pengambilan Keputusan mungkin tidak asing di telinga kamu semuanya tapi apa kamu tau teori tentang Pengambilan Keputusan? jika belom tau mari kita bahas bersama-sama....



DEFINISI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengambilan Keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final. Keputusan dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan atau tindakan.

Menurut Para Ahli Definisi Pengambilan Keputusan adalah sebagai berikut :



Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah  suatu cara yang digunakan untuk memberikan suatu pendapat yang dapat menyelesaikan suatu masalah dengan cara atau teknik tertentu agar dapat lebih diterima oleh semua pihak.

Proses Pengambilan Keputusan



Teknik Pengambilan Keputusan
- Operation Reserch/Riset Operasi: Penggunaan metode saintifik dalam analisa dan pemecah percoalan
- Linier Programming : Riset dengan rumus matematis
- Gaming War Game : Teori Penentuan strategi
- Probability : Teori kemungkinan yang diterapkan pada kalkulasi rasional atas hal-hal tidak normal.
- Rangking and statistical weighting : Melokalisasikan berbagai faktor yang akan mempengaruhi keputusan akhir atau menimbang faktor-faktor yang dapat dibandingkan dan yang tercakup didalam setiap alternatif.







Tipe Tipe Pengambilan Keputusan
















1. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur
Yaitu keputusan yang berulang-ulang dan rutin, sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pada manjemen tingkat bawah. Contoh:keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang,

2. Keputusan tidak terprogram / tidak terstruktur
Yaitu keputusan yang tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur, tidak mudah untuk didapatkan, dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar.Pengalaman manajer sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan tidak terstruktur.Contoh:keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain.

3. Keputusan dengan kepastian, resiko dan ketidakpastian

- Kepastian (certainly)
Terjadi jika ionformasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan tersedia dengan lengkap. Para manager memiliki informasi mengenai kondisi biaya operasi, biaya, batasan-batasan sumber daya, dari masing-masing tindakan serta kemungkinan perolehan hasil yang akan diperoleh.

- Resiko (risk)
Terjadi apabila sebuah keputusan memiliki sasaran yang jelas dan didasarkan pada informasi yang baik, namun konsekuensi masa depan dari masing-masing alternative keputusan tidak pasti. Analisis statistic dapat digunakan untuk mengalkulasi kemungkinan keberhasilan atau kegagalan. Ukuran resiko dapat mengidentifikasikan kemungkinan kegagalan suatu alternative dimasa depan.


- Ketidakpastian (uncertainly)
Berarti manajer mengetahui sasaran mana yang ingin diraih tetapi informasi mengenai alternative dan kejadian masa depan tidak lengkap. Manajer tidak memiliki informasi yang cukup jelas mengenai berbagai alternative atau untuk mengestimasi resikonya. Factor-faktor yang dapat mempengaruhi keputusan seperti harga, biaya produksi, volume atau tingkat suku bunga. Masa depan sulit di analisis dan diprediksi.



Menurut Kotler dan Keller (2007a:214) menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan merupakan proses psikologis dasar yang memainkan peranan penting dalam memahami bagaimana konsumen secara aktual mengambil keputusan pembelian.(Oktober 19, 2014)


Ada beberapa tipe tipe dalam pengambilan keputusan, para ahli sendiri telah merumuskan proses pengambilan keputusan model 5 tahap, meliputi :
  • Pengenalan masalah.
Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali masalah atau kebutuhan, yang dipicu oleh
rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal misalnya dorongan memenuhi rasa lapar, haus dan seks yang mencapai ambang batas tertentu. Sedangkan rangsangan eksternal misalnya seseorang melewati toko kue dan melihat roti yang segar dan hangat sehingga terangsang rasa laparnya.
  • Pencarian informasi.
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Sumber informasi konsumen yaitu:
- Sumber pribadi          : keluarga, teman, tetangga dan kenalan.
- Sumber komersial     : iklan, wiraniaga, agen, kemasan dan penjualan.
- Sumber publik            : media massa dan organisasi penilai konsumen.
- Sumber pengalaman : penanganan, pemeriksaan dan menggunakan produk.
  • Evaluasi alternatif.
Konsumen memiliki sikap beragam dalam memandang atribut yang relevan dan penting menurut manfaat yang mereka cari. Kumpulan keyakinan atas merek tertentu membentuk citra merek, yang disaring melalui dampak persepsi selektif, distorsi selektif dan ingatan selektif.
  • Keputusan pembelian.
Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan. Faktor sikap orang lain dan situasi yang tidak dapat diantisipasi yang dapat mengubah niat pembelian termasuk faktor-faktor penghambat pembelian. Dalam melaksanakan niat pembelian, konsumen dapat membuat lima sub-keputusan pembelian, yaitu: keputusan merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas, keputusan waktu dan keputusan metode pembayaran.
  • Perilaku pasca pembelian.
Para pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk pasca pembelian, yang tujuan utamanya adalah agar konsumen melakukan pembelian ulang.
Untuk lebih jelasnya, proses pengambilan keputusan konsumen model lima tahap tersebut disajian dalam gambar di bawah ini :

 


untuk itu dalam pengambilan keputusan pembelian konsumen tentunya selalu memperhatikan dan mencari pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan perilaku pembelian.



STUDY KASUS

CONTOH PERUSAHAAN

Jakarta, CNN Indonesia — PT XL Axiata mengaku tak lagi memusatkan perhatian untuk meningkatkan banyak pelanggan dan kini lebih berkonsentrasi memaksimalkan layanan yang berkualitas.
“Supaya menarik minat banyak orang, kita perlu tingkatkan kualitas, sekalipun itu harus menaikkan harga. Kalau cuma harga murah dan trafik banyak, kualitas malah sulit terjaga,” ungkap CEO XL Axiata, Dian Siswarini saat sedang berbincang dengan awak media di Graha XL.
Menurut Dian, tidak akan efisien dan berguna jika hanya mementingkan kuantitas pelanggan dan tetap mempertahankan harga murah, sebab ia meyakini, hal itu berpotensi merusak kualitas layanan.
Ia juga mengungkapkan dua macam reaksi dari para konsumen terkait kenaikan harga layanan data yang kini sudah menunjang teknologi 4G LTE.
Menurut Dian, reaksi pertama datang dari pelanggan yang mementingkan nilai tinggi (high value segment), atau mereka yang memang membutuhkan koneksi mumpuni tanpa permasalahkan harga.
“Mereka merasa baik-baik saja soal harga layanan data yang tak lagi murah. Lain halnya dengan jenis pelanggan kedua, yaitu mereka yang cost-conscious (sadar biaya),” sambung Dian.
Tipe pelanggan kedua yang ia maksud adalah mereka yang masih sanggup berkompromi dengan koneksi  lambat sedikit asalkan tarifnya tetap murah.
Karenanya, Dian menuturkan, perusahaan memberdayakan brand Axis untuk para pelanggan yang masih ‘perhitungan’ antara harga dan layanan data.
Axis memang diperuntukan untuk segmen pasar kelas menengah, sedangkan layanan XL lebih melayani pelanggan yang mengkonsumsi data besar. Sebagai contoh, kebanyakan pelanggan XL konsumsi datanya sudah di atas 2GB.
“Kami akan besarkan Axis. Kami sadar tak bisa hanya menggunakan satu brand saja, karena bisa sangat luas cakupannya. Jadi Axis akan tak akan kami ‘bunuh’,” jelas Dian lagi sembari tertawa kecil.
Dahulu sebelum diakuisisi, XL dan Axis adalah dua operator seluler yang bersaing. Awalnya ketika akuisisi ini rampung, XL berniat mematikan merek Axis. Namun Dian kala itu menyampaikan bahw brand equity yang mahal dan merek Axis yang kuat membuat operator ini urung melakukannya.
Merek Axis sendiri cukup mendapatkan tempat di beberapa daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta kawasan Sumatera menjadi basis pengguna Axis yang kuat. Dian menyatakan, pihak XL sampai sekarang masih harus meningkatkan brand awareness Axis di daerah yang belum terjangkau oleh layanan yang ia akuisisi senilai US$ 865 juta itu.
(tyo)

ANALISIS
Dari berita di atas tersebut dapat disimpulkan, bahwa PT XL Axiata sebenarnya ingin mematikan merek “Axis”. Namun CEO XL Axiata, Dian Siswarini, tidak akan mematikan “Axis” dikarenakan sadar tidak bisa hanya menggunakan satu brand saja. Hal ini dilakukan agar menyanggupi pelanggan kelas menengah dengan menggunakan Axis, sedangkan layanan XL lebih melayani pelanggan yang mengkonsumsi data besar.Oleh karena itu diambil sebuah keputusan untuk tidak mematikan Axis dan meningkatkan layanan Axis.

Jadi, keputusan yang telah diambil oleh CEO XL Axiata merupakan tipe keputusan terprogram dengan pengambilan keputuasan tingkat strategis karena didalam pengambilan keputusan memalui prosedur penanganan yang baku, dan pengambilan keputusan sesuai dengan golongan masyarakat yang nantinya akan menggunakan kartu perdana sesuai dengan keadaan ekonomi baik menengah maupun kebawah. Dan Gaya pengambilan keputusan pun CEO memperoleh informasi yang diperlukan dari para bawahan dan menetapkan keputusan yang dipandang relevan.


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_konsumen
https://id.wikipedia.org/wiki/Pengambilan_keputusan
http://liarahmadanii.blogspot.com/2013/10/proses-pengambilan-keputusan-konsumen.html
http://euisnurulb.weblog.esaunggul.ac.id/wp-content/uploads/sites/2284/2015/10/Modul-5-Pengambilan_Keputusan_dalam_Manajemen.ppt.






         

0 komentar:

Posting Komentar

 
;